Bagaimana Cara Perusahaan Menangani Proses Kerja Cloud Secara Benar

Budaya kerap kali menjadi halangan bagi perusahaan untuk mengadopsi
teknologi cloud. Hal itu dikatakan oleh David Linthicum, seorang pakar
komputasi awan dikutip dari infoworld.com. Salah satu faktor yang sulit untuk
membuat cloud berjalan dengan sempurna yaitu mengubah budaya yang biasa
dikerjakan untuk beradaptasi dengan teknologi cloud itu sendiri. Dalam beberapa
kasus, mengubah hal itu dapat dikatakan mustahil.
Sangat penting untuk memahami budaya perusahaan masing-masing dan perubahan
apa yang perlu dilakukan saat sedang mengoperasikan penerapan cloud computing.
Tim penulis dari IBM setuju dengan David mengenai hal ini. Dalam rilis terbaru
mereka, The Cloud Adoption Playbook,
ada beberapa hal yang yang sudah banyak diketahui permasalahan apa saja itu.
“Banyak perusahaan mengadopsi komputasi awan untuk mendukung inovasi dan
perubahan secara cepat. Namun, perusahaan-perusahaan itu banyak yang tidak memahami perubahan budaya mendasar yang
diperlukan untuk membuat adopsi ini berfungsi untuk jangka panjang.”
Sehingga banyak orang yang mengabaikan jika perubahan budaya itu
menciptakan budaya tersendiri yang justru akan sulit ditelusuri saat mengadopsi
cloud computing.
David juga mengatakan sering memikirkan perkataan Jack Nicholson di film A
Few Good Men, ketika menyatakan, "Anda tidak bisa mengganti ‘kebenaran!’
(Cloud)" dan Anda memiliki cukup banyak pesan hari ini untuk perusahaan
yang berharap bahwa mereka sudah melampaui budaya pada umumnya, padahal budaya
yang saat ini dijalani masih belum betul .
Mungkin banyak orang merasa masalah ini biasa-biasa saja, namun tidak
dengan David, masalahnya akan muncul ketika seorang teknisi berpengalaman
seperti dirinya yang biasa menerapkan teknologi baru, termasuk komputasi awan
melihat sebuah budaya cloud computing yang salah. Dikarenakan teknologi
internet terbarukan setiap saat para teknologi, seorang ahli teknologi perlu
mempelajari keterampilannya terus menerus.
Ada dua pendekatan dasar yang tampaknya paling berhasil. Dalam kedua kasus,
kebenaran pahit adalah bahwa banyak para ahli teknologi tidak dapat membuat
perubahan ke komputasi awan tanpa mengubah orang yang bertanggung jawab untuk
membuat komputasi awan sukses. Mereka perlu belajar bagaimana "menangani
cloud." Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana mereka mendapatkannya di
sana.
Buat kesempatan dan mereka akan datang#
Meskipun ini adalah pendekatan yang paling berisiko, ini memungkinkan para
IT membuktikan kesuksesannya. Maka orang cenderung berbaris di belakangnya.
Contohnya adalah 500 aplikasi pertama
yang dimigrasi ke cloud lebih murah untuk dioperasikan, lebih aman, dan
jauh lebih mudah bagi karyawan dan pelanggan untuk mengakses dan menggunakannya.
Ketika pendekatan ini berhasil, berarti IT telah membuktikan komputasi awan
di benak orang-orang bisa membawa perubahan. Kecil kemungkinan bagi mereka akan
mendorong keberhasilan itu mereka bahkan dapat berubah untuk mendapatkan
kepercayaan penuh.
Risikonya adalah jika para IT tidak berhasil pertama kali, akan ada banyak
orang yang mengira bahwa teknologi cloud tidak semaju yang dibayangkan.
Bekerja dengan tim dengan visi yang sama yaitu mengubah budaya sebelum menggunakan komputasi awan#
Pendekatan ini adalah yang paling mahal, karena setiap seorang IT harus
membelanjakan uangnya untuk konsultan luar. Mereka dituntut menambahkan banyak
pelatihan, dan biasanya memperlambat implementasi komputasi awan karena budaya
perlahan berubah. Kelemahannya
adalah biaya, tetapi sisi baiknya adalah komputasi awan akan selalu berfungsi.


